20 Oktober 2026 - 12:25
Mengubah Timur Tengah: Impian Netanyahu Terjebak dalam Kebuntuan Keamanan Israel

Setelah tiga tahun berperang di berbagai front, Netanyahu masih berbicara tentang penghancuran total musuh-musuh Israel. Namun, meluasnya ketakutan di tengah masyarakat Israel menunjukkan bahwa perluasan operasi militer tidak serta-merta menghasilkan keamanan yang berkelanjutan bagi masyarakat Israel.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Hasil survei jaringan televisi berbahasa Ibrani, Kan, menunjukkan bahwa tiga tahun setelah Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, sebanyak 67 persen warga Israel masih mengkhawatirkan terulangnya peristiwa serupa.

Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun telah berlangsung tiga tahun peperangan, pembunuhan, dan pembukaan berbagai front pertempuran, pencapaian militer Israel belum mampu mengembalikan rasa aman yang telah hilang di tengah masyarakatnya.

Berdasarkan laporan surat kabar Al-Akhbar Lebanon, keamanan merupakan salah satu landasan utama terbentuknya negara. Namun, bagi suatu entitas pendudukan yang berlandaskan kolonialisme, persoalan ini memiliki tingkat sensitivitas yang jauh lebih besar.

Entitas semacam itu ibarat tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah, sehingga bahkan penyusupan dalam skala terbatas dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat menentukan bagi keberlangsungannya.

Doktrin Ben-Gurion Terpukul oleh Operasi Badai Al-Aqsa

Doktrin keamanan Israel yang dirumuskan oleh David Ben-Gurion sejak tahun 1948 hingga 7 Oktober 2023 menjadi landasan strategi militer dan politik Israel. Operasi Badai Al-Aqsa menantang doktrin keamanan tersebut pada tingkat yang paling mendasar, dan Israel menganggapnya sebagai ancaman terhadap keberadaannya. Setelah perkembangan tersebut, slogan kemenangan mutlak menjadi pusat strategi Israel.

Sebab, menurut pandangan para pemimpinnya, setiap hasil yang tidak mencapai kemenangan menentukan akan dianggap sebagai kekalahan dan tidak akan mampu memperbaiki keretakan baru yang muncul dalam keamanan nasional.

Dari Membendung Musuh hingga Berupaya Menghancurkan Kemampuan dan Keberadaannya

Strategi Israel bergeser dari upaya membendung musuh menuju penargetan terhadap keberadaan dan kemampuan mereka secara langsung, tanpa menjadikan niat musuh atau waktu munculnya ancaman sebagai faktor penentu utama.

Serangan terhadap kemampuan militer Suriah, bahkan setelah jatuhnya pemerintahan yang sebelumnya dianggap Israel sebagai musuh, merupakan salah satu contoh pendekatan tersebut. Histeria kolektif di Israel menyebabkan pelanggaran luas terhadap norma-norma etika, kemanusiaan, dan hukum internasional.

Hal tersebut mencakup genosida di Gaza dan upaya mengusir penduduknya secara permanen, hingga pengerahan secara cepat berbagai kemampuan intelijen dan keamanan yang telah dihimpun di sejumlah front, mulai dari Lebanon hingga Iran.

Perlawanan Tetap Bertahan, Peperangan Tidak Mampu Sepenuhnya Menghilangkan Ancaman

Kekuatan-kekuatan perlawanan, dari Gaza hingga Iran, mengalami kerugian besar, tetapi tidak tersingkir dari medan pertempuran. Dalam sejumlah kasus, kekuatan-kekuatan tersebut bahkan berhasil mengambil inisiatif, membatasi kemampuan ofensif Israel, dan mencegah Tel Aviv menghilangkan sepenuhnya seluruh ancaman yang diklaimnya.

Peperangan terbaru melawan Iran juga mengubah keseimbangan regional sehingga merugikan Israel. Keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam peperangan, dengan komando langsung, mengubah konflik tersebut menjadi konfrontasi yang tidak diperkirakan sebelumnya.

Hal ini terjadi karena Israel tidak mampu mencapai kemenangan yang menentukan. Akibatnya, sesuatu yang semula dapat menjadi peluang bersejarah bagi Tel Aviv justru berpotensi berubah menjadi ancaman nyata baginya.

Rasa Aman Masyarakat Israel Runtuh Ketika Perang Berakhir

Survei bulanan Institut Studi Keamanan Nasional Israel (INSS) menunjukkan bahwa rasa aman masyarakat Israel meningkat selama periode peperangan, tetapi menurun ketika terjadi gencatan senjata, kesepakatan, atau berkurangnya intensitas konflik.

Pola tersebut menunjukkan adanya kecemasan sosial yang mendalam serta ketidakmampuan menciptakan stabilitas yang berkelanjutan. Dengan kata lain, bahkan ketika operasi militer semakin intensif, keadaan tersebut tidak selalu menghasilkan rasa aman yang bertahan lama di tengah masyarakat Israel.

Janji Netanyahu untuk Dua Tahun Mendatang: Menghancurkan Hamas dan Hizbullah serta Menggulingkan Pemerintahan Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa Israel telah menempuh 90 persen perjalanan dan dalam dua tahun mendatang harus menyelesaikan tugas tersebut dengan menghancurkan Hamas dan Hizbullah secara menyeluruh serta menggulingkan pemerintahan Iran.

Pernyataan tersebut, dalam konteks persaingan pemilihan umum, dinilai lebih ditujukan kepada para pemilih Israel daripada sekadar menjadi laporan mengenai situasi militer.

Penekanan Netanyahu pada penyelesaian seluruh misi juga menunjukkan betapa pentingnya gagasan kemenangan yang menentukan dalam cara pandang kolektif masyarakat Israel. Sebaliknya, kelompok oposisi menuduh Netanyahu dan kubu politiknya gagal menjaga ataupun memulihkan keamanan Israel sejak peristiwa 7 Oktober.

Krisis Kontrak Sosial dan Kebuntuan Strategi Keamanan Israel

Periode ini sangat memengaruhi kontrak sosial antara masyarakat Israel dan pemerintahannya. Dalam keadaan tersebut, penyusunan strategi keamanan yang efektif sekaligus mampu menciptakan stabilitas berkelanjutan menjadi semakin sulit. Israel masih mengandalkan berbagai instrumen yang tidak stabil, termasuk pembentukan sabuk-sabuk keamanan.

Tujuan Netanyahu mengemukakan slogan perubahan Timur Tengah setelah 7 Oktober 2023 adalah menghancurkan kekuatan-kekuatan perlawanan dan menggulingkan Republik Islam Iran. Tujuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baru keamanan nasional Israel, mempertahankan tingkat minimum kohesi sosial, serta menjaga harapan akan masa depan yang stabil.

Setelah tiga tahun berlalu, Israel masih berusaha memulihkan keamanan yang telah hilang. Hal ini terjadi ketika Israel telah menggunakan berbagai cara, termasuk pembunuhan, penindasan, dan genosida, tetapi hingga kini belum mampu mencapai kemenangan mutlak.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha